Monday, September 16, 2019

Exercise dan sepatu terapi

Mohon Maaf kalau blog ini baru sempat saya update kembali dikarenakan saya terlalu sibuk mengurus keluarga saya dan pekerjaan saya. Sekarang baru saya lanjutkan kelanjutan terapi yang harus dijalani oelh putri saya setiap harinya tanpa henti walaupun sudah lewat lebih dari 5 tahun yang lalu.

sepatu splint yang saya buat di kawasan cileduk tersebut harus menempel dikaki anak saya selama 23 jam dan hanya boleh dilepaskan saat mandi. selebihnya aktifitas apapun yang dilakukan oleh putri saya selalu harus menggunakan splint tersebut dan exercise yang saya katakan melakukan penekukan telapak kakinya hingga menempel ke tulang kering setiap hari tetap dilakukan hingga instruksi lebih lanjut dari Dr. Soebroto Sapardan. walaupun seberat apapun dan sesakit apapun yg putri kami rasakan, kami tidak memiliki pilihan selain tetap melakukan exercise tersebut.

sepatu splint tersebut digunakan oleh anak kami selama 1 tahun 3 bulan hingga kaki putri kami terluka dan sobek oleh gesekan dari sepatu tersebut, walaupun hati kami menangis sebagai orang tuanya tetapi kami tetap melakukan instruksi dari dokter dengan harapan kalau kaki anak kami akan tumbuh dengan normal seperti kaki anak-anak lain pada umumnya.

sementara masa menggunakan sepatu splint tersebut kaki anak kami sudah mulai tumbuh kuat dan dia mulai belajar berdiri dengan beralaskan sepatu splint tersebut.walalupun terasa berat bobok sepatu besi tersebut untuk ukuran anak seumur 1,5 tahun, namun dia mulai belajar melangkah walaupun sering terjatuh-jatuh hingga suatu saat dia terjatuh dan tulang hidungnya terantuk ke ujung siku meja hingga terjadi pendarahan.Kami membawa putri kami ke dokter THT di Rumah Sakit sumber waras juga untuk melakukan pengecekan pada tulang hidung anak kami, saat melakukan pemeriksaan tersebut kami baru mengetahui kalau dokter tersebut memiliki pasien beberapa yang menggunakan sepatu Splint seperti putri kami dan mereka juga mengalami apa yang kami alami kalau ternyata anak-anak yang berkebutuhan khusus seperti putri kami itu agak kurang dalam menjaga keseimbangan tubuhnya sehingga cenderung sering terjatuh. atas pengalaman tersebut kami mulai melakukan perhatian yang lebih ekstra pada putri kami untuk menjaga dia agar tidak terlalu sering terjatuh. sangkin terlalu seringnya terjatuh hingga putri kami menjadi trauma dan kami tidak memberikan dia berjalan seorang diri hingga dia lancar berjalan walalupun masih sering terjatuh.



No comments: